Selasa, 04 Februari 2014
Hakekat Menggunakan Jilbab
Hakekat Menggunakan Jilbab
Perbedaan Berhijab, Berjilbab dan Berkerudung
Menutup aurat adalah kewajiban bagi seorang wanita
muslimah, tidak ada tawar-menawar. Aurat wanita, sebagaimana yang kita
ketahui adalah seluruh bagian tubuh wanita selain wajah dan telapak
tangan. Selain itu, kembali kepada hakikat dari aurat sendiri harus kita
pahami, Aurat adalah bagian tubuh wanita yang jika dilihat oleh lain
jenis (laki-laki) akan menimbulkan dan mengundang syahwat.
Nah itulah yang dimaksud dengan aurat, sekarang banyak kita lihat, seorang wanita muslim yang mencoba menutupi auratnya dengan berpakaian panjang dan sering mereka sebut dengan jilbab modern namun pada hakikatnya dia tidak menutupi aurat dengan benar, memakai kaos ketat, memakai legging, dan memakai kerudung yang pendek, sehingga lekuk tubuhnya kentara.
Kami jelaskan kembali, bahwa wanita
tersebut hakikatnya tidak menutupi aurat, karena masih memperlihatkan
bagian keindahan wanita yang menimbulkan syahwat laki-laki.
Apakah Hijab Itu?
Hijab seperti yang dijabarkan dalam ensiklopedia bebas pengertian dalam bahasa Arab yang berarti penghalang. Pada beberapa negara
berbahasa Arab serta negara-negara Barat, kata "hijab" lebih sering
merujuk kepada kerudung yang digunakan oleh wanita muslim. Namun dalam
islam, hijab lebih tepat merujuk kepada tatacara berpakaian yang pantas
sesuai dengan tuntunan agama.
Dalam Al Qur'an pada dua surat Al-Ahzab :59 dan An-Nur :31 disebutkan kewajiban wanita muslim menggunakan hijab:
Hai Nabi, katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:
“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang
demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka
tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Ahzab :59).
Dalam ayat tersebut dijelaskan
bahwa, jilbab itu harus diulurkan keseluruh tubuh, dalam artian hijab
tersebut harus menutupi seluruh bagian tubuh, bukan berarti penutup
kepala yang harus panjang, namun pakaiannya yang harus menutupi lekuk
tubuh wanita. Nah jilbab inilah yang dikatakan hijab.
Sementara ini
masih banyak yang memberikan pengertian bahwa jilbab hanya sebatas
penutup kepala yang banyak digunakan oleh muslimah modern, yang tidak
menutupi lekuk tubuh wanita, dan sering disebut dengan kerudung.
Jangan Salah Artikan
Dibeberapa bagian Negara, penutup
kepala merupakan pakain budaya atau pakain adat setempat, dan terkadang
ada sebagian orang yang mengatakan bahwa jilbab merupakan budaya arab,
ini salah, karena memakai hijab adalah kewajiban bagi setiap muslimah,
seperti yang dijelaskan dalam alquran surat al-Ahzab diatas.
Jadi, tidak ada alasan agi bagi
muslimah untuk memakai hijab atau jilbab panjang, dengan menggunakan
hijab bukan berarti kita tidak bisa berkreasi dengan hijab kita.
Hakekat Berjilbab dalam islam hukumnya adalah wajib, seperti yang telah
diperintahkan oleh Allah dalam firmannya surat Al-Ahzab ayat 59 yang
artinya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Jadi tidak ada tawaran lagi hukum memakai jilbab dalam islam, Namun perlu digaris bawahi, sekarang ini
masih banyak orang yang belum mengerti hakikat hukum wanita berjilbab
yang dijelaskan dalam ayat tersebut, karena semakin bergesernya
pengertian jilbab yang sebenarnya menjadi jilbab dalam pengertian yang
modern. Dalam ayat tersebut bahwa "mengulurkan jilbabnya keseluruh
tubuh" yang dalam pengertiannya adalah berarti menutupi aurat keseluruh
tubuh, termasuk menutupi semua lekuk tubuh wanita. Karena sebagaimana
yang kita ketahui bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh wanita kecuali
wajah dan kesdua tel;apak tangan, jadi lekuk tubuh yang bisa mengundang syahwat wanita juga adalah aurat.Inilah hukum berjilbab yang sebenarnya.
Hukum wanita berjilbab juga dijelaskan dalam firman Allah surat Al-A’raf ayat 26 yang artinya :
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”
Nah, dalam ayat tersebut kita mengetahui hakikat pakaian yang
sebenarnya, yaitu untuk menutupi aurat, yang tujuan utamanya adalah agar
menambahkan kepada kita ketaqwaan kepada Allah swt.
Sedangkan hukum wanita tidak berjilbab, adalah seperti yang disabdakan oleh nabi dalam hadits,
“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya, Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia maksudnya penguasa yang dzalim, dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu jarak jauh sekali”.
Begitulah wanita yang berjilbab tapi tidak dengan hakikatnya, seperti
hadits diatas berpakaian tapi telanjang, memperlihatkan lekuk tubuh,
dengan bahan yang tipis sehingga memperlihatkan warna kulit, sering kita
lihat juga dijaman sekarang ini wanita dengan jilbab yang diatas
kepalanya seperti punuk-punuk unta, ini juga termasuk kepada wanita yang
sebenarnya tidak berjilbab.
7 Sunnah Nabi SAW yang Harus Dijaga
7 Sunnah Nabi SAW yang Harus Dijaga
Cerdasnya orang yang beriman adalah, dia
yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat, yang sekejap untuk hidup yang
panjang. Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup.
Hidup bukan untuk mati,tapi mati itulah untuk hidup.
Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Karena, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT.
Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Karena, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT.
Mati bukanlah cerita dalam akhir hidup,tapi mati adalah awal cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan.
Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:
1, Tahajjud
karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.
2, membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari
Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.
3, Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu shubuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki
ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena
panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman
untuk memakmurkan masjid Allah.
4, jaga shalat Dhuha karena kunci rezeki terletak pada shalat dhuha.
5. jaga sedekah setiap hari.
Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekahsetiap hari.
6 jaga wudhu terus menerus karena Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin
Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa
selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat
dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia ya Allah”.
7, amalkan istighfar setiap saat.
Dengan istighfar masalah yang terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.
Dzikir,
kata Arifin Ilham, adalah bukti syukur kita kepada Allah. Bila kita
kurang bersyukur, maka kita kurang berdzikir pula, oleh karena itu
setiap waktu harus selalu ada penghayatan dalam melaksanakan ibadah dan
ibadah ajaran Islam lainnya.
“Dzikir
merupakanmakanan rohani yang paling bergizi,” katanya, dan dengan
dzikir berbagai kejahatan seperti narkoba, KKN, danlainnya dapat
ditangkal sehingga jauhlah umat manusia dari sifat-sifat hewani yang
berpangkal pada materialisme dan hedonisme..
Orang yang didoakan Malaikat
12 Golongan Orang Yang Didoakan Malaikat adalah :
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.” (HR. Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.” (HR. Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)
2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu Shalat.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)
3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang-orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud I/130)
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang-orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud I/130)
4. Orang-orang yang menyambung shaf pada shalat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)
5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaallinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaallinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)
6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa salam bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat (berdoa) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa salam bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat (berdoa) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)
7. Orang-orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal.
Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka,
‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’,
mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal.
Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka,
‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’,
mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan.
Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (HR. Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan.
Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (HR. Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733)
9. Orang-orang yang berinfak.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’.
Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’.
Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur.”
Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah”. (HR. Ibnu Hibban dan Ath Thabrani dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur.”
Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah”. (HR. Ibnu Hibban dan Ath Thabrani dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)
11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh.” (HR. Ahmad dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh.” (HR. Ahmad dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)
12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa salam bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang ada di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)
wallahu a’lam bish-showab
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa salam bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang ada di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)
wallahu a’lam bish-showab
Tata Cara Sholat Sesuai Nabi Muhammad SAW
Cara Sholat yang sesuai dengan Nabi Muhammad SAW
1. Berdiri tegak menghadap kiblat, pandangan ke arah tempat sujud, kemudian lakukan takbiratul ihram.
2. Angkat kedua tangan sejajar pundak atau telinga, hadapkan telapak tangan ke arah kiblat, dan ucapkan Allahu akbar.
3. Bersedekap, dengan meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri, atau di atas pergelangan atau lengan tangan kiri.
4. Letakkan tangan di depan dada. Tetap tundukkan pandangan ke arah tempat sujud.
5. bacalah doa iftitah dengan pelan:
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا
بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ
خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ من الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ
اغْسِلْني مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالمَاءِ وَالبَرَدِ
6. Bacalah ta’awudz dengan pelan:
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
7. Bacalah Surat Al-fatihah, dan sebelumnya membaca basmalah dengan pelan, dan berhenti di
setiap akhir ayat.
8. Ucapkanlah amiin setelah selesai Al-fatihah, baik jadi imam, makmum, maupun shalat sendiri.
9. Keraskan bacaan amiin jika anda menjadi makmum.
10. Bacalah surat yang anda hafal.
11. Diam sejenak seusai baca surat.
12. Mulai rukuk dengan mengangkat kedua tangan sejajar pundak atau telinga, ucapkan Allahu akbar sambil bergerak turun.
13. Letakkan telapak tangan di lutut, dengan posisi mencengkeram, jari-jari direnggangkan, dan siku agak dibentangkan.
14. Punggung lurus, kepala lurus dengan punggung, dan lakukan dengan thumakninah.
15. Bacalah doa rukuk setelah anda sempurna rukuk:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ
16. Bangkit, sambil mengucapkan:
سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَه
17. Disambung dengan bacaan:
رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ
dalam posisi sudah berdiri sempurna18. Dianjurkan untuk memperlama berdiri i’tidal dan bersikap tenang.
19. Durunlah menuju sujud sambil bertakbir: Allahu akbar dan letakkan tangan sebelum lutut.
20. Sujud dengan bertumpu pada 7 anggota badan: wajah (kening dan hidung), dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki.
21. Posisi jari tangan dirapatkan menghadap kiblat, telapak tangan sejajar pundak atau sejajar telinga.
22. Tangan membentang ke samping, punggung posisi tengah dan kaki hampir menyiku.
23. Tenang dan bacalah doa sujud:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
24. Bangkit dari sujud sambil membaca takbir: Allahu akbar, kemudian duduk iftirasy.
25. Punggung tegak, letakkan telapak tangan di atas paha atau lutut, posisi jari agak renggang
26. Baca doa:
رَبِّ اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِي
27. Kemudian bergerak turun sambil bertakbir. Dan sujudlah sebagaimana cara yang pertama.
28. Bangkit dari sujud, tanpa membaca takbir, lakukanlah duduk istirahat sejenak, dengan Posisi duduk iftirasy.
29. Kemudian berdiri ke rakaat berikutnya dengan bertumpu pada kedua tangan, sambil bertakbir.
30. Berdirilah sempurna dan langsung sedekap.
31. Lakukan seperti yang anda lakukan pada rakaat sebelumnya.
32. Setelah anda mendapatkan dua rakaat, bertakbir kemudian duduk tasyhud awal. duduk iftirasy,
letakkan telapak tangan di atas paha atau lutut, posisi jari agak renggang, acungkan jari telunjuk tangan kanan
33. Baca doa tasyahud awal:
التَّحِيَّاتُ للهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ،
السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ،
السَّلامُ عَلَيْنَا، وَعَلَى عِبَادِ الله الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ
لا إلَهَ إلَّا الله، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
34. Dianjurkan untuk ditambah dengan bacaan shalawat:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ
حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ،
إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
35. Bangkit dengan membaca Allahu akbar. Dan setelah sempurna berdiri angkatlah kedua tangan dan bersedekaplah.
36. Setelah di rakaat terakhir, duduknya tanyahud akhir dengan posisi tawarruk. Posisi tangan di atas paha, acungkan telunjuk tangan kanan.
37. Bacalah tasyahud dan shalawat:
التَّحِيَّاتُ للهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ،
السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ،
السَّلامُ عَلَيْنَا، وَعَلَى عِبَادِ الله الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ
لا إلَهَ إلَّا الله، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ *
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ،
اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ
مَجِيدٌ
38. Berdoalah memohon perlindungan dari 4 hal:
اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ،
وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ، وَمِنْ
شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّال
39. Anda boleh berdoa yang lainnya:
اللَّهُمَّ أعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
40. Selanjutnya salam, menoleh ke kanan sampai kelihatan pipi kanan dari belakang dengan mengucapkan:
السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
41. Dan salam ke kiri sampai kelihatan pipi kiri dari belakang dengan mengucapkan:
السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
42. Baca istighfar dan lanjutkan berdzikir. Semoga Allah menerima ibadah kita
Tentang Al - Quran
Assalamualaikum.Wr.Wb.
TAHUKAH ANDA ???
Al-Qur’an
itu !!!
Tersusun
dari 30 Juz, 114 Surat, 554 Ruku` ( ع/`Ain), 6236 Ayat, 77.439
Kata, 325.345 Huruf.
(Kalangan
ulama masih berbeda pendapat mengenai jumlah ayat Al-Qur’an).
Perbedaan
penghitungan jumlah ayat ini karena banyak Ulama yang belum sepakat apakah
kalimat BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM yang ada di pembukaan surah dan huruf Alif Lam
Mim, Alif Lam Ra, Yaa Sin, Shad, dan Qaaf
termasuk ayat atau bukan. Inilah yang menyebabkan adanya perbedaan mengenai jumlah
ayat. Namun demikian, hal itu tidak menimbulkan perpecahan di antara umat.
Ø ATTBAYUN
1. Huruf terbanyak : Alif dan Nun;
2. huruf paling sedikit :
Zha dan Ghin.
3. Surat terpanjang :
Al-Baqarah (286 ayat).
4. Ayat terpanjang :
Al-Baqarah 282 (128 kata).
5. Kata terpanjang :
Fasqaynaakumuuh pada Al-Hijr
22 (10 huruf).
6. Wahyu pertama :
Surat Al-’Alaq:1 – 5,
diturunkan di Gua Hira’ pada malam Senin 17 Ramadhan 13 SH (Sebelum Hijrah)
atau 6 Agustus 610 M.
7. Wahyu terakhir : Surat Al-Ma’idah:3,
diturunkan di Arafah pada hari Jumat 9 Dzulhijjah 10 H atau 6 Maret 632 M.
Alquran
pertama kali dicetak pada tahun 1530 Masehi atau sekitar abad ke-10 H di
Bundukiyah (Vinece). Namun, kekuasaan gereja memerintahkan agar Alquran yang telah dicetak itu
dibasmi. Kemudian, Hankelman mencetak Alquran di Kota Hamburg (Jerman) pada tahun 1694 M
atau sekitar abad ke-12 H. (Lihat RS Abdul Aziz, Tafsir Ilmu Tafsir, 1991: 49).
Fakta
dalam sebuah penelitian & kajian mengungkapkan :
Bahasa
Arab Al-qur’an (Arab) bisa menghasilkan energi dan aura tertentu. Lafadz Allah (Gabungan
Huruf Alif Lam Lam Ha),
jika di
foto aura mengeluarkan pendar cahaya
yang menyilaukan.
Disebuah
literatur martial
artis berbahasa Jepang pernah memaparkan bahwa air putih yang dibacakan
kata-kata atau doa
diatasnya, molekul airnya (diamati mikroskop) berubah sesuai dengan doa yang
dibacakan. Bila buruk arti katanya maka buruk pula bentuk molekulnya, demikian
sebaliknya.
Ø AL-QUR’AN ADALAH OBAT HATI.
Setiap
jenis penyakit hati dan jasmani, pasti dalam Al-Qur’an ada indikasi terhadap
obatnya, penyebab atau cara pencegahannya, bagi orang yang diberi pemahaman
terhadap Kitabullah oleh Allah SWT. (Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Ath-Thibun
AnNabawiy)
“Dan
tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufiq untuk menjadikannya sebagai
obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan meletakkan pada
sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna,
keyakinan yang kokoh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apapun
tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya. Bagaimana mungkin penyakit
tersebut mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi. Jika
diturunkan kepada gunung, maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada
bumi, maka ia akan membelahnya. Maka tidak satu pun jenis penyakit, baik
penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam Al-Qur`an ada cara yang
membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan) nya.” (Ibnu Qayyim, Zadul Ma’ad,
4/287)
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi
penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah
menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82)
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran
dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan
petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S.Yunus: 57)
Alquran
diturunkan secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Para Ulama
membagi masa penurunan ini menjadi dua periode, yaitu periode Makkah dan
periode Madinah. Periode Makkah berlangsung selama 13 tahun masa kenabian
Rasulullah SAW. Sementara itu, periode Madinah dimulai sejak peristiwa hijrah
berlangsung selama 10 tahun.
Sedangkan,
menurut tarikh Qamariyah Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur selama 22
tahun, 2 bulan, 22 hari.
Surat-surat
panjang berisi beberapa ruku’ sedangkan surat-surat pendek berisi satu ruku’.
Tiap satu
ruku’ diberi tanda di sebelah pinggirnya dengan huruf: ع.
Adapun
pertengahan Al-Qur’an terdapat pada surat Al-Kahfi ayat 19 pada lafazh: (وَلْيَتَلَطَّفْ)
Kosakata
Al-Quran berjumlah 77.439
(tujuh
puluh tujuh ribu empat ratus tiga puluh sembilan) kata, dengan jumlah huruf
323.015 (tiga ratus
dua puluh tiga ribu lima belas) huruf yang seimbang jumlah kata-katanya, baik antara kata
dengan padanannya, maupun kata dengan lawan kata dan dampaknya. (Quraish
Shihab, wawasan al-qur’an)
Dilihat
dari segi turunnya ayat-ayat Al-Qur’an itu dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1.
Ayat-ayat Makkiyyah, ialah ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah atau sebelum
Nabi Muhammad SAW. berhijrah ke Madinah.
2.
Ayat-ayat Madaniyyah, ialah ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau sesudah
Nabi Muhammad SAW. hijrah ke Madinah.
Ø Keseimbangan Antara Jumlah Bilangan Kata Dengan Antonimnya:
Al-hayah
(hidup) dan al-mawt
(mati), masing-masing sebanyak 145 kali;
Al-naf’
(manfaat) dan al-madharrah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali;
Al-har
(panas) dan Al-Bard
(dingin), masing-masing 4 kali;
Al-Shalihat (kebajikan) dan Al-Sayyi’at (keburukan), masing-masing 167 kali;
Al-Thumaninah (kelapangan/ketenangan) dan Al-Dhiq (kesempitan/kekesalan),
masing-masing 13 kali;
Al-Rahbah (cemas/takut) dan Al-Raghbah (harap/ingin), masing-masing 8 kali;
Al-Kufr
(kekufuran) dan Al-Iman
(iman) dalam bentuk definite, masing-masing 17 kali;
Kufr
(kekufuran) dan iman
(iman) dalam bentuk indifinite, masing-masing 8 kali;
Al-shayf
(musim panas) dan Al-Syita’ (musim dingin), masing-masing 1 kali.
Ø Keseimbangan Jumlah Bilangan Kata Dengan Sinonimnya/Makna Yang
Dikandungnya.
Al-Harts
dan Al-Zira’ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali;
Al-’ushb
dan Al-Dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing 27 kali;
Al-Dhallun dan Al-Mawta
(orang sesat/mati [jiwanya]), masing-masing 17 kali;
Al-Qur’an, al-wahyu dan Al-Islam
(Al-Quran, wahyu dan Islam), masing-masing 70 kali;
Al-Aql
dan Al-Nur
(akal dan cahaya), masing-masing 49 kali;
Al-Jahr
dan Al-’Alaniyah (nyata), masing-masing 16 kali.
Ø Keseimbangan Antara Jumlah Bilangan Kata Dengan Jumlah Kata
Yang Menunjuk Kepada Akibatnya.
Al-Infaq
(infak) dengan Al-Ridha
(kerelaan), masing-masing 73 kali;
Al-Bukhl
(kekikiran) dengan Al-Hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali;
Al-Kafirun (orang-orang kafir) dengan Al-Nar/Al-Ahraq (neraka/ pembakaran), masing-masing
154
kali;
Al-Zakah
(zakat/penyucian) dengan Al-Barakat (kebajikan yang banyak), masing-masing 32 kali;
Al-Fahisyah (kekejian) dengan Al-Ghadhb (murka), masing-masing 26 kali.
Ø Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata
penyebabnya.
Al-Israf
(pemborosan) dengan Al-Sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali;
Al-Maw’izhah (nasihat/petuah) dengan Al-Lisan (lidah), masing-masing 25 kali;
Al-Asra
(tawanan) dengan Al-Harb
(perang), masing-masing 6 kali;
Al-Salam
(kedamaian) dengan Al-Thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali.
KESEIMBANGAN KHUSUS:
Kata Yawm (hari) dalam bentuk tunggal
sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang
menunjuk kepada bentuk plural (Ayyam) atau dua (Yawmayni), jumlah keseluruhannya hanya 30, sama dengan jumlah hari dalam
sebulan. Disisi lain, kata yang berarti “Bulan” (Syahr) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam
setahun.
Al-Quran
menjelaskan bahwa langit ada “tujuh.” Penjelasan ini diulanginya sebanyak
tujuh kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah 29, Al-Isra’ 44,
Al-Mu’minun 86, Fushshilat 12, Al-Thalaq 12, Al-Mulk 3, dan Nuh 15. Selain itu, penjelasannya tentang
terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat.
Kata-kata
yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik Rasul (Rasul), atau Nabiyy (Nabi), atau Basyir (pembawa berita gembira), atau Nadzir (pemberi peringatan),
keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan
nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.
Langganan:
Komentar (Atom)





